Klien²ku Meremehkan WordPress



Fajri
Bagi siapapun yang berpengalaman bikin website untuk klien pakai WordPress, apakah kalian pernah mendapat cibiran seperti ini:
"Halah, pakai WordPress doang gue juga bisa tinggal next next aja udah jadi".
"pakai WordPress? Idih, pasaran banget sih".
"Bisanya cuma WordPress doang… cih".
"Ngapain pakai WordPress, kea anak SMA baru belajar komputer aja… kea gue nih ngoding native pakai Laravel/Zend/CI/Cake".
"Jadi Anda pakai WordPress? Yah kalau gini mah ngapain juga saya nyewa Anda, mendingan saya bikin sendiri aja juga bisa tinggal beli template udah jadi deh".
Atau apakah kalian pernah merasa tidak PeDe dengan WordPress?
Bagaimana kalian menghadapi cibiran-cibiran di atas jika ada?
👈 lihat SS pertanyaannya
💬🗨

Moerhadie
Sekarang sih udah gak ada yang berbicara seperti itu. Berikan edukasi terlebih dahulu kepada klien anda, sampaikan kepada mereka bahwa WordPress sudah banyak berkembang, kehebatannya begini-begitu, saya yakin mereka akan paham.👏2
Pribadi
Kalau saya tak kasih penjelasan kekurangan dan kelebihan pakai Content-Management-System (CMS): WordPress, jomla, drupal, dll. Pakai framework: Ci, laravel, zend. Pakai PHP native. Dab saya berikan pricelist sehingga klien tahu tingkat kesulitan, kelebihan dan harga yang jelas, lalu saya suruh pilih jadi mereka tidak asal koment/protes….
Kalau di aplikasikan ke website, blog, marketplace/olshop, portofolio/company profile ini merupakan hak klien.
Maka kita harus jaga wibawa sebagai web delover dan bersikap profesional. Ini yang disebut tantangan.👏8
Aldo
Alhamdulillah kalau saya sih pada banget om pakai WordPress. Karena berkat WordPress, saya bisa dapet banyak klient perusahaan besar dan rata-rata mereka puas banget dengan WordPress. Kenapa? Karena SEO Friendly dan kemudahan penggunaan yang ditawarkan WordPress sangat memuaskan mereka.
Kalau misalkan ada klient atau temen yang agak ngerti IT dan dia tau kita pakai WordPress sehingga dia agak mencibir, ya tunjukin aja kualitas web yang kita buat dengan menggunakan WordPress. Kalau bisa, bandingkan dengan hasil web yang mereka buat dengan codingan sendiri. Kemudian, berikan edukasi ke mereka kenapa kita pakai WordPress, apa kelebihan WordPress, dan tanya bagian mana yang salah dalam menggunakan WordPress. Jangan sampai kitanya malah terdiam dan gak bisa jelasin, kalau kaya gini wajar kenapa dicibir terus²an.
Tapi, kalau untuk klient, jangan terlalu memaksakan harus pakai WordPress juga. Ikutin aja kemauan mereka, kasih tau perbedaan spesifikasi dan harganya. Kadang klient juga agak aneh, ketika kita kasih yang menurut kita bagus amat, tapi mereka malah minta yang menurut kita kurang bagus.👏6
Dodik
Seriuz gue dapet proyek wordpres ecomeece 16 juta. Pakai framework ditawar abis 10 juta. Jadi tetep bangga pakai WordPress.👏2

Minardo
Nah bagian ini nih mas yang kadang saya sendiri suka bingung, mas Dodik
Dan mas Eser gimana caranya bisa dapat klient yang seperti itu? Ada tipsnya tidak mas? Biar kita semua di sini bisa belajar, gak cuma soal teknis saja mas, tapi bisnisnya juga.
Saya sendiri suka bertanya-tanya ke diri saya sendiri "apalah artinya jago teknis, tapi tidak bisa memasarkan jasa dengan tepat guna".

Farid
Yang nyibir siapa dulu? Jika klien, tinggal ditanya ia inginnya bgmn? Jika ingin develop sendiri dari awal, oke sj. Tinggal sebut sj biayanya, misalnya Rp30juta,50juta, atau 100juta. Kliennya mau, ya oke… jangan lupa suruh bayar DP dulu 50%.
Kalau yang nyibir bukan siapa², lha tuk apa diperhatikan?👏4
Lukas.
Jawab aja, kalau ingin develop buatan sendiri biayanya bisa naik 10-20x lipat belum urusan copyright….
Bayu
Saya dulu programmer untuk perusahaan telko (java) indosat & xl, setelah itu jadi programer untuk perusahaan penerbangan (c++) bikin program untuk cockpit, kemudian juga untuk perusahaan perbankan (java), jadi kata² saya cukup valid kalau saya ucap di kondisi tertentu WordPress ini sama challengingnya daripada tempat saya kerja terdahulu.👏3

👈 lihat SS percakapan tadi

Alex
Cek pm mas.

705
Mungkin tidak identik dengan kasus yang dimaksud TS, tapi tulisan ini menurut saya bisa memberikan insight yang menarik dan relatif berhubungan dengan tema tersebut. Tulisan mas Donny Verdian, salah satu web developer Indonesia yang kariernya cukup sukses di Australia, yang juga seorang blogger. Berikut tulisannya:
Salah satu yang menjadikanku berani untuk berkeputusan pindah ke Australia dulu adalah karena aku merasa sudah cukup kenyang pengalaman dalam bidang web development di Indonesia. Hingga saat itu, November 2008, aku telah berada sekitar sembilan tahun dalam dunia web development sejak pertama kali aku membangun website untuk klien.
Hal lainnya yang membuatku lebih berani lagi adalah keyakinan bahwa salah satu keunggulan anak IT khususnya developer adalah kami, darimana pun kami berasal, berbicara menggunakan bahasa yang sama yaitu bahasa pemrograman. Jadi meski Bahasa Inggris kami tertatih-tatih dalam kesehariannya kami tak perlu terlalu khawatir karena akan lebih banyak berbicara dengan komputer menggunakan code-code yang kami kuasai.
Namun, ternyata, dua modal itu tak cukup. Keduanya memang tetap jadi syarat utama, tapi sebagai kelengkapan, ada hal-hal lain yang perlu disesuaikan jika kalian berpikir untuk bermigrasi kemari.
Solution over technology.
Pendekatan yang kebanyakan dilakukan oleh web development company di sini adalah pendekatan yang lebih berorientasi pada solusi terbaik untuk klien ketimbang keindahan teknologi yang dihasilkan/digunakan. Ada dari kalian yang mungkin berpikir bahwa ini tak ubahnya dengan kata pepatah, "Berusaha sekecil mungkin untuk mendapatkan sebanyak mungkin" Kalau kalian berpikir demikian, kalian tidak terlalu benar sebenarnya….
Begini….
Aku ingat betul pada hari pertama kerja sebagai seorang web developer di Australia, CIO (Chief Information Officer) perusahaan bertanya bagaimana aku akan membangun situs web yang mereka inginkan. Aku lantas menjawab dengan lugas, .
"I'll built from the scratch using PHP and Javascript!".
Ia lantas kembali bertanya, "OK! PHP-nya pakai framework apa? Javascript-nya pakai jQuery?".
"Nggak! Nggak pakai framework-framework-an. Semua kubangun dari awal baik dari sisi PHP maupun Javascriptnya!".
Biasanya, di Indonesia dulu ketika aku ucap seperti itu, calon klien akan berujar, "Wah, sangar Mas! Pasti kamu berpengalaman banget ya?!".
Namun, di sini, jawabanku itu malah memicu pada persoalan besar. CIO itu lantas bertanya "Katakanlah kamu brilian dalam membangun dari awal tanpa framework, bagaimana aku bisa yakin bahwa yang kamu buat itu akan lebih baik dan lebih murah daripada yang sudah ada di pasaran dan tinggal pakai serta sedikit tune-up untuk membuatnya sempurna?".
Ketika aku masih sibuk mengumpulkan kata untuk menjawab pertanyaannya, ia menohokku lagi begini, "Bagaimana juga kalau suatu waktu kamu keluar atau dikeluarkan dari perusahaan ini… Atau katakanlah kamu mendadak sakit dan aku harus cari penggantimu? Apakah hasil kerjaanmu akan mudah dimengerti dan diteruskan oleh mereka?".
Siang itu akhirnya Sang CIO memanggilku dan managerku untuk hadir dalam pertemuan membahas bagaimana aku akan membangun situs web yang dikehendaki. Dalam meeting itu akhirnya aku meluruhkan segala kesombonganku dan menyaguhi untuk membangun situs web menggunakan jQuery dan sebuah framework yang sebelumnya ketika masih di Indonesia selalu kupandang sebelah mata baik kegunaan dan keberadaannya. Tiga bulan kemudian aku baru tahu dari manager-ku bahwa sebenarnya seandainya pada meeting siang itu aku tetap bersikukuh membangun website mengikuti kemauanku, aku akan dipulangkan dan tak perlu masuk lagi pada hari kedua dan selanjutnya!
Selengkapnya: dv[.]fyi/framework-not-framework/.👏🤭13

👈 lihat SS percakapan tadi

Tama
Klien sejati yang berorientasi / fokus pada tujuan gak akan mempermasalahkan banget mau pakai apa.
Buat mereka lebih penting tujuannya tercapai dengan efektif dan efisien, serta pengelolaannya mudah. Mau pakai Content-Management-System (CMS) opensource, framework opensource atau apapun.
Gak tau ya kalau dia itu agen /broker lempar project. Atau jangan² developer juga yang lagi ngumpulin portfolio.
Saya malah sering dapet kerjaan konvert dari PHP scratch / framework ke WordPress. Mereka cuma request sistemnya diupdate ke platform yang lebih update dan mudah dikelolanya.
Memang Rata² kontennya tidak kompleks atau berupa ecommerce / listing.
Bagi Saya mereka memang pebisnis sejati yang punya hitung²an efisiensi.👏3
Gie
Kadang gua kasih pilihan sih kalau kaya gitu mau dibuatin pakai WordPress atau framework….
Kalau pakai WordPress gua jual sekitar 1.5jt… kalau framework sekitar 3 keatas tergantung kesulitan.
Hamid
Kalau menurutku yang menchallenge begitu bukan yang punya duit alias product owner.
Buat product owner yang penting website itu bisa dipake sama usernya dan usernya seneng. Gak bakal ambil pusing websitenya dibikin pakai apa dan caranya gimana.👏1
Yudha
Eits jangan salah WordPress itu kalau bener bener bisa modifnya itu mahal harusnya apalagi kalau udah bisa buat plugin sendiri. Karena WordPress itu PHPnya sendiri juga udah lumayan rumit, tapi kalau emang kamu ngedevelop pakai wordpressnya cuma ya istilah kata "ambil template dari Google, terus modif dikit" ya wajar lah.
Satu lagi web apps, kalau bisa ngembanginnya pakai WordPress daripada framework lainnya ya mahalan pakai WordPress lah.
Btw gw juga keduanya bikin pakai WordPress juga, ngoding juga.👏1
Beni
Saya selalu siap plan B dengan Custom Content-Management-System (CMS) yang saya bikin sendiri pakai laravel, ketika mereka mencibir, saya sodorkan proposal Plan B, dengan speck custom, harga start 17jt… Then i Smile.👏7
Bincar
Kalau untuk corporate sebaiknya jangan WordPress.karena WordPress dianggap identik media blogging.

Gilang
Website ui.ac.id hampir ratarata sub domainnya pakai WordPress ko.
Aris
Obama care? Halifve? Yang omsetnya sampai ²,5M? Web ordernya pakai woo lho.
AMC website film zombie² itu, WordPress juga.
—-.
Saya lebih menitik beratkan Fungsi dan tujuan, baru bisa memberikan decision WordPress or not.
Corporate or not, itu semua tergantung musayawarahnya 🙂.👏💗3

Setiawan
Nekopoi aja pakai WordPress masa kamu enggak.🤭3

👈 lihat SS percakapan tadi

Hendratno
Salah satu prinsip dasar pengembangan (development) dalam IT itu adalah "sesuai kebutuhan". Jadi kalau WordPress masih dapat menjawab kebutuhan, kenapa tidak? Jangan ragu untuk menggunakannya. Namun, kalau memang WordPress tidak dapat menjawab kebutuhan, maka jangan digunakan. Jadi bukan dilandasasi Karena gensi-gengsian, canggih²an, keren²an, dst. Itu namanya "keinginan", bukan "kebutuhan".
Nah tinggal dilihat, kebutuhan klien sudah "definitif" atau belum?👏10

Hamid
Nah… Harusnya user oriented. Terpenuhi atau gak kebutuhan user pakai WordPress. Kan gitu.👏1
Bayu
Nah ini!👏1

Jajat
Jangan pernah merendahkan kemampuan sendiri, sedikit atau banyak akan menjadi keahlian yang tidak semua orang bisa. Kalau dari awal bilangnya cuma bikin website, ya gak salah di kita, tapi kalau minta dari awal pakai program lain, ya jelaskan kita membuatnya hanya dengan program Content-Management-System (CMS)(WordPress). Kalau gak mau ya silahkan cari ke yang lain aja. Kalau dia nyinyir, ya ucapkan aja makasih. Orang gitu gak usah diladenin jelek attitudenya.👏3
Dylan
Dibiarkan saja toh mas, banyak orang yang merasa hebat karena punya skill bla.bla.bla.
Namun, pada akhirnya hasil karyalah yang membuktikan, .
Return of investmentnya memuaskan klient tidak.
Lagipula membuat website itu gak melulu mengenai programming. Namun, juga butuh ilmu UI/UX, ilmu marketing, dan masih banyak lagi.
Jadi daripada musingin cibiran² tersebut lebih baik fokus saja pada pengembangan produk, hasil karya, dan kepribadian.👏1
Sian
Kasih tau kalau Facebook saja newsroomnya pakai WordPress yang bayarannya $5000 perbulan. Belum lagi BBC, Sony, Samsung, Bloomber dll yang juga pakai WordPress.👏1
Bezimeni
Masih banyak di luar sana belum tahu cara membuat website. Kemampuan membuat website platform WordPress seperti pelaku usaha UMKM/pelajar dan kalangan profesional lainnya. Kemampuan untuk membuat website menjadi nilai tambah sendiri apalagi bagi seorang pebisnis karena sudah tidak lagi menyewa jasa. Anda patut berbangga akan kemampuan diri.
Anton
Biasanya yang pinter bikin program akan kehilangan waktu isi konten.👏2

705
Perlu diingat juga, web programmer/developer =/= content creator/publisher. 🙂.👏1
Anton
Tidak semua orang bisa semua mas.
705
Nah iya makanya itu, pernyataan "yang pinter BIKIN PROGRAM akan KEHILANGAN WAKTU ISI KONTEN" ini sebetulnya agak janggal, bila konteksnya adalah web developer, seperti yang dibahas pada trit ini. Ngapain web developer susah² mikirin bikin/publish konten. IMO.
Anton
Orang yang sibuk program kan kerjanya di program. Kan waktunya buat abis isi konten. Bukan mereka ga bisa isi konten, tapi waktunya yang ga ada mas.
705
Saya tidak ucap mereka enggak bisa bikin konten lho. 😅 Yang saya ucap, "Ngapain web developer susah² mikirin bikin/publish konten". Itu menyambung komentar pertama saya, "programmer/developer =/= content creator/publisher", meski ada juga web developer yang merangkap content creator, tapi setahu saya sangat sedikit. CMIIW.
👈 lihat SS percakapan tadi

👈 lihat SS percakapan tadi

Reza
Klient pilih pakai WordPress biar mudah di-maintain-nya.
Jadi pakai WordPress atau web framework lain itu ya terserah klient maunya apa.
Jadi seharusnya pakai WordPress itu ya biar mudah buat klient, bukan biar mudah buat developernya.💗1
Mindi
Kalau pengalaman saya, klient ga perduli mw pakai framework, Content-Management-System (CMS) apa, yang penting tujuan usahanya tercapai dan aman websitenya + minim budget, itu semua bisa dicapai dng WordPress, misal klient mau bikin form registrasi yang ala ala, Dy mah ga peduli mw bikin pakai tepung kek, saos kek, yang penting sesuai kebutuhan dan budget, semua itu bisa dijawab pakai WordPress, apalagi dng bidang saya di bidang SEO, WordPress pas banget.👏1

Luthfi
Setuju om.

Yayan
Kalau saya simple tinggal di balikin aja kuat gak sama budgetnya dan terus²an keluar duit karena ngoding dari 0.👏1

Arthur
Sama gan mereka pikir ngoding gak capek apa?👏1

Luthfi
Kasih tau aja om kelebihan WordPress apa dibanding framework atau coding dari 0. Kea misalnya komunitasnya kuat. User interface untuk backend sudah mumpuni. Customizable dan extendable.👏1

Yayan
Bener belum bayar UI/UX mocup customnya belum ini belum itu 150jt baru jalan 😂😂😂.

Sutrisno
Kalau saya sih lebih lihat klient saja. Apa si klient punya tim IT yang mempuni untuk terus maintenance kalau misal build web sendiri, . Kalau gak mah ya saya sarankan pakek WordPress, karena gak perlu mikir banyak masalah maintenance. Tinggal lebih fokus kepada kontent. WordPress open source jadi nanganin bugnya tinggal report dan nunggu update dari pihak WordPress. WordPress juga buanyak plugin² yang keren².
Semua hanya tools gak perlulah fanatik antara satu dan yang lain. Yang penting keinginan tercapai dengan budget yang dimiliki klient 😊.👏3
Rifai
Ahh gw pecinta WordPress. Pakai WordPress ajah terus tuk projek². Kalau pakai theme luar negeri nyettingnya luar biasa sulit wakak …kalau klien gampang buat pakai WordPress. Suruh ajah buat sendiri.Di themeforest itu sampai menyediakan theme install ke web kita loh di luar hrga theme. Yang berarti yang klien anggap mudah di WordPress saya jamin kalau dia build sendiri dari 0 sampai jadi kagak bakal bisa. Butuh waktu dan belajar terus.
Setiawan
Klient itu orientasinya sama hasil, yang penting tampilannya bagus sudah girang bener😂😂😂.👏1
Reno
Yang di atas masih mending build website pakai WordPress.lah saya build website pakai blogspot dibilang kaya anak SMP baru buat blog sama seseorang (teman). Terus saya ucap sama YBS "emang situ buat WEB pakai skill koding udah dapet penghasilan berapa?" Jawaban dia malah bikin nyesek "baru ratusan ribulah". Terus saya ucap "Bang (orang medan), website itu bukan soal UI, skill koding dll, pendapatan juga penting. Terus YBS ucap "Emang kau udah dapat berapa dari website". Ya saya jawablah "Ya bisalah untuk bayar webhosting mu selama 20 tahun" (bukan sombong). Terus dia pergi 🤣🤣.
Intinya sih PEDE aja dengan web kita. Website sih yang penting bukan platformnya, tapi isi di dalam plus penghasilannya.
Mungkin master dan suhu yang lain bisa nambah atau koreksi.👏4

.
Said.
Sip setuju ane. Kan targetnya itu project-an. Jadi ngapain repot" ngoding kalau bisa pakai cara cepet.

Fahrul
Kalau menghadapi klien seperti itu saya biasanya pakai joomla atau prestashop.
Rosanda
Kalau menurut saya, justru ketika sama klien yang ngerti enak om. Kita tinggal, offer jasa lain yang bisa kita provide. Contoh "ah pakai WordPress doang gampang" kalau saya biasanya balik tanya, jadi kebutuhan bapa sebenarnya apa? Redesign kah, SEO kah". Biasanya dengan demikian kita bisa mancing rejeki lebih dalam.👏1
Daco
Ga tanya om, budgetnya berapa….

👈 lihat SS percakapan tadi



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *